Pernyataan Luhut Sebut Corona Tak Kuat Panas, Luhut mengaku dibully Nitizen (warganet)

Luhut Binsar Pandjaitan, Menteri Koordinasi dan Investasi Kelautan, mengakui bahwa ia diintimidasi atau diintimidasi oleh warga (pengguna Internet) karena membuat pernyataan tentang virus korona dan iklim panas. Luhut sebelumnya memperkirakan bahwa virus Covid 19 tidak akan kuat saat musim kemarau saat cuaca panas di negara tropis seperti Indonesia.

“Di masa lalu, itu diganggu ketika saya mengatakan bahwa cuaca (panas) mempengaruhi Covid-19. Ya, ya, ya, tidak,” kata Lehat dalam sebuah wawancara dengan Radio RRI pada tahun 2020. 5 Berkata pada hari Sabtu tanggal 2 bulan ini.

Menurut Luhut, pernyataan ini bukan tanpa alias. Alasan untuk ini adalah bahwa kemungkinan ini adalah hasil penyelidikan oleh para ahli Indonesia pada pemodelan virus di wilayah khatulistiwa panas, menurut Luhat.

Bahkan, katanya, penelitian ini diakui oleh para ahli A.S. “Saya sedih karena saya memberikan hasil seorang peneliti Indonesia, tetapi itu dianggap salah,” katanya.

Dia percaya pemulihan virus corona yang umum di Indonesia karena demam yang terkena akan segera dimulai, tetapi Lehat mengatakan orang lain tidak boleh diabaikan. Misalnya, pakai topeng, biasakan mencuci tangan, dan jaga jarak fisik untuk menjaga jarak aman.

“Jadi ada disiplin hanya karena dipengaruhi oleh panas (walaupun itu tidak berarti Anda bisa mengendalikan penyebaran korona. Ini masalah jika Anda tidak mencuci tangan tanpa topeng),” katanya.

Deklarasi udara yang dikeluarkan pada awal April segera memicu respons kontroversial. Karena itu, diyakini bahwa virus korona akan terus menyebar meski Indonesia panas.

Kontroversi muncul karena Ikatan Dokter Indonesia (IDI) mengatakan tidak ada bukti ilmiah untuk menunjukkan apakah Covid-19 tidak selamat dari cuaca panas. Tak lama kemudian, Kantor Meteorologi, Klimatologi dan Geofisika (BMKG) menerbitkan informasi yang mengatakan pasti akan ada pengaruh antara cuaca dan penyebaran virus.

Informasi BMKG didasarkan pada analisis yang awalnya disampaikan kepada Presiden Joko widodo (Jokowi) dan dibahas dengan para menteri koordinasi yang relevan, termasuk Luhut. mulanya Kepala BMKG, Dwikorita awalnya mengakui bahwa penelitian ini tidak akan dipublikasikan. Oleh karena itu, penelitian ini adalah dukungan untuk kebijakan social distancing.

Namun setelah kontroversi mereda, BMKG akhirnya ikut angkat bicara. “Setelah kekacauan, kami pikir akan lebih baik untuk memberikan edukasi kepada masyarakat,” kata Dwycorita.

Leave a Reply