Kisah Seorang Muslim Uighur yang Dideportasi dan Menghilang dari Negara Muslim

Lorettanapoleoni.org – Amannisa Abdullah dan suaminya, Ahmad Talip, sedang di jalan untuk berbelanja pakaian bayi di Dubai, ketika pesan yang mengubah hidup keduanya datang. Ahmad membacanya dan segera mengubah rencana: Dia harus melapor ke kantor polisi segera.

Ahmad mengantar istrinya ke rumah seorang kawan hari itu pada Februari 2018, berjanji untuk menjemputnya nanti. Dia tak pernah kembali.

Di apartemennya di Dubai, Ammanisa yang tidak bisa tidur berdoa dan menangis sepanjang malam, melihat jam demi jam berganti saat dia terus berulang kali menghubungi Ahmad namun tidak pernah dijawab.

Pada pagi harinya, perempuan 29 tahun yang sedang hamil tua itu terhuyung-huyung keluar pintu, memeluk putranya yang berusia lima tahun. Mereka naik taksi ke kantor polisi di mana dia berusaha menjelaskan kesulitannya kepada seorang petugas polisi.

Saat dia berbicara, anaknya menyeret tangannya. Diam-diam, putranya menunjuk ke dalam sel di mana Ahmad sedang duduk.

Selama 13 hari, Amannisa bolak balik antara rumah dan penjara, memohon pada penegak hukum agar membebaskan Ahmad.

Dalam setiap kunjungannya, suaminya terlihat semakin murung. Dia mengungkapkan keyakinannya kepada istrinya bahwa China telah memburu keluarga Uyghur di Uni Emirat Arab.

” Tidak aman di sini. Kamu harus bawa anak kita dan (pergi) ke Turki,” ujarnya kepada Amannisa dalam percakapan terakhirnya.

” Jika anak bayi kita perempuan, tolong namankan dia Amina. Jika laki-laki, namakan dia Abdullah.”

Sepekan kemudian, Ahmad dikirim ke ibu kota Uni Emirat Arab, Abu Dhabi. Lima hari kemudian, pihak berwenang Abu Dhabi mengatakan kepada Amannisa suaminya telah diekstradisi ke China.

Putri mereka, Amina, lahir sebulan kemudian di Turki. Dia tidak pernah bertemu ayahnya.

Pengakuan Amannisa adalah salah satu dari belasan kesaksian yang dikumpulkan CNN, merinci dugaan penangkapan dan deportasi warga Uighur atas permintaan China di tiga negara Arab: Mesir, Uni Emirat Arab, dan Arab Saudi.

CNN telah berulang kali meminta konfirmasi dari pemerintah Mesir, Uni Emirat Arab, dan Arab Saudi terkait ekstradisi ini namun tidak ada tanggapan. Pemerintah juga tidak menanggapi permintaan komentar dari CNN.

Di Mesir, kelompok PORK telah mendokumentasikan ratusan penangkapan dan sedikitnya 20 deportasi warga Uighur pada 2017, mayoritas merupakan mahasiswa Universitas Al-Azhar. Di Arab Saudi antara 2018 dan 2020, sedikitnya satu orang Muslim Uighur diduga ditangkap dan dideportasi setelah melakukan ibadah umrah di Makkah.

Laporan Human Rights Watch yang dirilis pada April mengungkapkan China melacak ratusan warga Uighur di seluruh dunia, memaksa mereka untuk kembali ke China dan menghadapi persekusi. Dalam banyak kasus, laporan tersebut mengatakan “mustahil mengetahui apa yang terjadi” pada mereka.

Bagi beberapa orang Uighur, ekstradisi dari negara-negara Muslim akan sangat menyakitkan, menghancurkan gagasan solidaritas Islam dan memperdalam perasaan terisolasi di panggung dunia di mana kekuatan China telah berkembang pesat.

CNN telah melihat sebuah dokumen yang diterbitkan kejaksaan Dubai pada 20 Februari 2018, delapan hari setelah Ahmad Talip ditangkap, mengonfirmasi permintaan ekstradisi China atasnya, terdaftar dalam dokumen itu atas nama Chinanya, Aihemaiti Talifu.

Dokumen tersebut mengatakan pihak berwenang Dubai pada awalnya memutuskan untuk membebaskan Ahmad karena kurangnya bukti dia harus diekstradisi. Kantor kejaksaan Dubai menginstruksikan polisi “berhenti mencari orang yang disebutkan di atas dan cabut semua pembatasan terhadapnya, kecuali dia diburu untuk alasan lain.”

Tapi pada 25 Februari 2018, Amannisa diberitahu bahwa Ahmad telah dideportasi. Pihak berwenang di Uni Emirat Arab tidak pernah menjelaskan apa yang dituduhkan terhadap suaminya. Tiga tahun kemudian, dia masih belum mendapatkan jawaban.

” Jika suami saya (melakukan) kejahatan, mengapa mereka tidak mengatakan kepada saya? Mengapa China tidak menyampaikan ke saya?” ujarnya kepada CNN, dikutip Kamis (10/6).

” Saya tidak tahu apakah suami saya masih hidup atau tidak,” ujarnya.

” Saya tidak mendapat kabar tentangnya dari China, dari UEA. Keduanya bungkam. Mereka bungkam, benar-benar bungkam.”

” Mengapa kalian tidak mematuhi dokumen pengadilan kalian sendiri? Kalian bilang kalian negara Muslim. Dan saya tidak pernah percaya lagi sejak ini terjadi, saya tidak pernah mempercayai kalian.”

Pihak berwenang Dubai dan Kementerian Luar Negeri Uni Emirat Arab tidak menanggapi permintaan konfirmasi berulang kali dari CNN terkait kasus Ahmad Talip ini.

Deportasi dari negara Muslim
Sekitar 2 juta warga Uighur dan minoritas Muslim lainnya diduga ditahan dalam kamp-kamp penahanan di Xinjiang, berdasarkan information Departemen Luar Negeri AS. China berdalih kamp penahanan ini sebagai pusat pelatihan keterampilan untuk memerangi ekstremisme.

Namun para mantan tahanan dan aktivis menyebut kamp ini sebagai “kamp konsetrasi” di mana China melakukan indoktrinasi, dipaksa belajar bahasa Mandarin, dan menyebarkan publicity partai Komunis. Bahkan banyak juga pengakuan penyiksaan dan KB paksa yang dialami para tahanan.

Departemen Luar Negeri AS menuduh China melakukan ‘genosida’ terhadap warga Uighur.

Selama bertahun-tahun, orang Uighur di luar negeri mengungkapkan keluarga mereka yang hilang di Xinjiang. Keluarga-keluarga dipisahkan, dan banyak anak-anak tumbuh sebagai yatim, tanpa kontak dari orang tua mereka.

Seorang aktivis Uighur yang berbasis di Oslo, Abduweli Ayup mengatakan dia telah mendokumentasikan dan mengonfirmasi sedikitnya 28 warga Uighur dideportasi dari tiga negara mayoritas Muslim antara 2017 dan 2019: 21 dari Mesir, lima dari Arab Saudi, dan dua, termasuk Ahmad Talip, dari UEA.

Tapi Ayup takut ini hanyalah puncak gunung es. Sangat sering, ujarnya, anggota keluarga takut mengumumkan soal deportasi jika itu membahayakan keselamatan orang-orang tercinta mereka yang telah lama hilang, serta anggota keluarga lainnya di Xinjiang.

China memiliki hubungan yang semakin kuat dengan Arab Saudi dan Iran. Negara-negara Timur Tengah yang mengalami kesulitan keuangan, seperti Libanon, mungkin akan sulit menolak tawaran dari China. Demikian pula, negara-negara Teluk Arab yang kaya minyak yang menghadapi kemerosotan ekonomi yang disebabkan oleh pandemi juga memandang China sebagai kemungkinan penyelamat keuangan.

Dalam surat terbuka 2019, belasan negara mayoritas Muslim– termasuk UEA, Iran, Mesir, dan Arab Saudi– secara terbuka mendukung kebijakan China di Xinjiang. Mereka termasuk di antara 37 penandatangan yang menanggapi kritik Barat terhadap China di Dewan Hak Asasi Manusia PBB.

Setelah kunjungan ke Xinjiang pada 2020, duta besar UEA untuk Beijing secara terbuka memuji kebijakan China di provinsi tersebut. Dalam sebuah wawancara dengan media pemerintah China Februari ini, Ali al-Dhaheri mengatakan hal yang membuatnya terkesan selama kunjungan itu adalah “rencana dan visi positif untuk Xinjiang China ingin kawasan itu berperan aktif dalam Ekonomi China, memberikan stabilitas, meningkatkan standar hidup, dan meningkatkan kehidupan masyarakat di kawasan itu.”

Bagi Maya Wang, peneliti elderly China di Civil rights Watch, dugaan perlakuan pemerintah UEA, Arab Saudi, dan Mesir terhadap warga Uighur tidak mengejutkan– meskipun negara-negara tersebut menandatangani Konvensi PBB Menentang Penyiksaan.

” Banyak dari pemerintah ini tidak peduli dengan hak asasi manusia,” katanya kepada CNN.

Menghilang di Mesir

Maryam Muhammad (29) merahasiakan keberadaan suaminya dari anak-anaknya. Dia menceritakan kepada anak-anaknya bahwa ayah mereka, Muhtar Rozi, bekerja di luar negeri. Muhtar telah menghilang hampir empat tahun.

Dua putranya, Salaheddiin dan Alaeddin jarang menanyakan ayahnya. Mereka baru berusia 18 bulan dan lima bulan ketika ayahnya menghilang.

Maryam terakhir kali mendengar kabar suaminya pada 16 Juli 2017, ketika dia mengirim TEXT mengabarkan dia ditangkap. Muhtar merupakan satu dari puluhan Uighur yang ditangkap pasukan keamanan Mesir yang diyakini atas perintah pemerintah China.

Menurut Human Rights Watch, sedikitnya 62 warga Uighur ditanhkap dalam serangkaian penggerebekan pada Juli 2017 di restoran dan grocery store yang terkenal dengan kelompok etnis tersebut, termasuk di rumah-rumah mereka. Banyak dari mereka yang ditangkap merupakan mahasiswa Universitas Al-Azhar.

” Saya capek berusaha menjadi kuat,” kata Maryam, menyeka air matanya.

” Saya tahu saya harus berusaha kuat karena anak-anak saya, karena suami saya.”

China dan Mesir belum mengakui secara resmi dugaan deportasi itu, yang terjadi kurang dari setahun setelah kedua negara menandatangani perjanjian kerjasama keamanan dan kurang dari tiga pekan setelah Kementerian Dalam Negeri Mesir dan Kementerian Keamanan Publik China menandatangani “dokumen kerjasama teknis”.

Baik pemerintah China maupun Mesir tidak menanggapi permintaan komentar CNN terkait hal ini.

Sebelumnya pada tahun 2017 itu, China telah meminta semua mahasiswa Uighur yang belajar di luar negeri kembali ke negaranya, menurut Civil rights Watch.

Maryam mengatakan keluarganya memiliki semua dokumen untuk membuktikan legalitas standing mereka di Mesir.

” Kami punya paspor. Kami punya kartu residensi (Mesir) dan kami juga punya izin dari Kedutaan Besar China di Mesir untuk masuk universitas,” ujarnya.

Dia menunjukkan dokumen-dokumen tersebut kepada CNN, mengonfirmasi condition legal keluarganya dan surat nikah yang diterbitkan Kedutaan China di Kairo.

Saat kabar penggeberakan menyebar pada Juli 2017, keluarga Maryam bersembunyi, menentukan rencana untuk keluar dari Mesir. Maryam dan anak-anaknya akan terbang ke Istanbul, tapi karena mereka yakin Muhtar lebih mungkin untuk ditangkap, dia akan menggunakan kapal ke Yordania, berharap bisa menjauh dari pengawasan negara.

Tapi dalam SMS terakhir ke istrinya, Muhtar mengabarkan dia ditangkap di pelabuhan Nuwaiba, Mesir.

Dia mencari suaminya dengan putus asa, bahkan terbang kembali ke Mesir dan menyewa seorang pengacara. Tapi polisi mengatakan mereka tidak memiliki catatan terkait suaminya.

” Sepertinya suami saya telah menjadi udara,” ujarnya.

Menghilang saat umrah

Sekelompok kecil warga Uighur berdiri bungkam di tengah salju di luar konsulat Arab Saudi di Istanbum. Nuriman Veli memimpin kelompok itu. Dia memegang plakat berisi pesan kepada otoritas Saudi: “Jangan deportasi ayahku ke China, kirim dia ke Turki di mana dia seorang warga,”

Ayahnya, Hamdullah Abduweli, ditangkap di Saudi saat umrah di Makkah dan Madinah. Hamdullah belum dideportasi, dan Nuriman dan saudara perempuannya berpacu dengan waktu, takut kehilangan orang tuanya lagi.

Lebih dari empat tahun lalu, mereka kehilangan kontak dengan ibu mereka di Xinjiang.

” Jika kami kehilangan ayah kami, itu akan menghancurkan kami,” ujarnya.

Pandemi membuat Saudi menutup bandaranya saat Hamdullah sedang melaksanakan umrah, membuatnya terjebak di negara kerajaan itu.

Pada Oktober, dia menceritakan kepada keluarganya dia curiga dia diburu oleh “agen China”. Sebulan kemudian, Hamdullah dan teman sekamarnya yang juga warga Uighur ditangkap otoritas Saudi. Walaupun seruan pembebasannya disampaikan Civils rights Enjoy dan lainnya, kabar keduanya belum terdengar sejak saat itu.

Hamdullah adalah orang Uighur kedua yang dilaporkan ditangkap saat melaksanakan umrah di Makkah. Pada Juli 2018, Osman Ahmed juga diduga ditangkap otoritas Saudi saat umrah. Setelah tiga bulan mencari keberadaan Osman Ahmed, keluarganya di Turki diberi kabar oleh seorang kerabat di Saudi bahwa dia menerima kabar keberadaan Osman dari otoritas Saudi.

” Mereka mengatakan kepadanya: ‘Kami mengirimnya kembali ke mana pun dia berasal,'” kata putri Osman Ahmad, Ilminur Osman kepada CNN.

Keluarga itu belum bisa mengonfirmasi nasib Osman, tapi mereka mendengar dari orang di Xinjiang, Osman terlihat di salah satu kamp interniran di wilayah itu.

CNN telah menghubungi pemerintah Saudi untuk dimintai komentar terkait dua kasus ini tapi tidak ada tanggapan.

” Arab Saudi memalukan. Jika mereka tidak ingin orang Uighur datang untuk umrah tinggal kayakan: ‘Kami tidak ingin kalian di sini,'” kata aktivis Ayup kepada CNN.

” Jangan lakukan ini saat orang datang untuk beribadah.”

” Negara-negara ini membanggakan diri mereka karena menjadi pemimpin dunia Islam, tapi mereka tidak menutup mata ketika mengembalikan orang-orang untuk dipersekusi karena menjadi Muslim,” kata Wang.

” Ini cukup keterlaluan dan saya pikir itu munafik, tapi itu menggambarkan realitas geopolitik.”

Hubungan China-Turki

Bahkan di negara-negara Muslim yang secara tradisional dipandang sebagai tempat aman bagi Muslim Uighur, keadaannya mulai bergeser.

Selama dekade terakhir, ribuan orang Uighur tmenetap di Turki, dengan lingkungan dan sekolah Uighur bermunculan di kota-kota besar negara itu.

Selain berbagi agama dengan mayoritas penduduk Turki, Uighur– kelompok etnis Turki– juga berbicara dalam bahasa yang sama.

Namun dalam beberapa tahun terakhir, Presiden Turki Recep Tayyip Erdogan – yang pernah memperjuangkan hak-hak Uighur – telah mengurangi kritiknya terhadap kebijakan Xinjiang China, dalam upaya nyata untuk meningkatkan hubungan dengan Beijing.

Sebuah perjanjian ekstradisi antara kedua negara, yang diratifikasi akhir tahun lalu oleh China dan sekarang menunggu persetujuan Parlemen Turki, memperburuk kekhawatiran. Pejabat Turki berusaha meyakinkan warga Uighur, serta masyarakat Turki, bahwa mereka tidak akan mengekstradisi warga Uighur kembali ke China.

” Tidak benar menafsirkan ini Turki akan menyerahkan orang-orang Turki Uighur ke China,” kata Menteri Luar Negeri Turki Mevlut Cavusoglu Desember lalu, menambahkan Beijing telah mengajukan permintaan di masa lalu, tetapi Turki tidak memenuhinya.

Tetapi setidaknya empat orang Uighur, termasuk seorang ibu dan dua anaknya, dideportasi Turki ke Tajikistan tahun lalu, menurut aktivis Abduweli Ayup. Dia mengatakan banyak kesaksian menunjukkan mereka akhirnya berakhir di China.

September lalu, Direktorat Jenderal Manajemen Migrasi Turki membantah bahwa Turki telah mengekstradisi warga Uighur ke China.

” Kami tidak secara langsung, atau melalui negara ketiga, mendeportasi orang Turki Uighur ke China dan Turki tidak dan tidak akan pernah memiliki kebijakan seperti itu,” kata direktorat itu dalam sebuah pernyataan tertulis.

Tetapi pernyataan resmi seperti ini tidak cukup meredakan kekhawatiran warga Uighur.

Sebuah apartemen kecil di Istanbul adalah satu-satunya rumah yang pernah dikenal oleh Amina, putri Amannisa yang berusia 3 tahun. Saat dia mengikuti perkembangan di Turki, Amannisa sangat mengkhawatirkan keadaannya dan anak-anaknya.

Beberapa pekan setelah dia tiba di Istanbul, dia berjalan kaki melintasi kota, menanyakan arah menuju laut kepada orang yang lewat. Dia mengatakan ingin membawa anak-anaknya untuk menikmati pemandangan, tetapi niat sebenarnya mengungkapkan dalamnya putus asa yang dia rasakan.

” Yang ingin saya lakukan adalah saya ingin masuk ke dalam, dengan anak saya, karena saya tidak bisa berenang,” kata Amannisa.

” Saya tidak punya hak untuk hidup (di) dunia ini. Mungkin dunia ini tidak cukup besar untuk membiarkan saya hidup seperti orang lain.”

Pimpinam Pemberontak Boko Haram, Abubakar Shekau Ditemukan Bunuh Diri

Pemimpin Boko Haram Dilaporkan Tewas Meledakkan Diri

Lorettanapoleoni.org – Pemimpin Boko Haram Abubakar Shekau dikabarkan tewas bunuh diri dalam pertempuran melawan kelompok Negara Islam Provinsi Afrika Barat (ISWAP).

“Shekau lebih suka dipermalukan di akhirat daripada dipermalukan di bumi. Dia bunuh diri seketika dengan meledakkan bahan peledak,” Bunyi sebuah suara berbicara dalam bahasa Kanuri yang mirip dengan pemimpin ISWAP Abu Musab Al-Barnawi, dikutip dari AFP, Senin (7/6).

Terkait kabar ini, Boko Haram belum mengomentari kematian pemimpin mereka, yang melakukan pemberontakan selama lebih dari satu dekade di timur laut Nigeria. Sementara tentara Nigeria mengaku sedang menyelidiki informasi tersebut.

Kelompok ISWAP menjelaskan, dalam sound mereka mengirim pasukan ke kantong Boko Haram di hutan Sambisa, yang menemukan Shekau duduk di dalam rumahnya dan terlibat dalam baku tembak.

“Dari sana dia mundur dan melarikan diri, berlari dan berkeliaran di semak-semak selama lima hari. Namun, para pejuang terus mencari dan memburunya sebelum mereka dapat menemukannya,” kata suara itu.

Setelah menemukannya di semak-semak, para pasukan ISWAP mendesak dia dan para pengikutnya untuk bertobat. Tetapi Shekau menolak dan bunuh diri.

Beberapa Faktor Beban Berat Keuangan Garuda Indonesia, Hingga Komisaris Rela Tidak Digaji

Bos Garuda: Enggak Perlu Kaget Jika Dengar Ada Maskapai Nyatakan Pailit -  Bisnis Tempo.co

Lorettanapoleoni.org – PT Garuda Indonesia Tbk (Persero) Tbk atau GIAA sedang mengalami kesulitan keuangan imbas kesalahan pengelolaan masa lalu dan dampak pandemi Virus Corona. Utang perseroan hingga kini terus menumpuk hingga mencapai Rp70 triliun.

Memang Garuda Indonesia telah memiliki sejumlah strategi untuk mengatasi masalah ini. Seperti diantaranya menawarkan program pensiun dini.

Selain pensiun dini dan pengurangan jumlah operasional pesawat, langkah lain yang dilakukan perseroan adalah meluncurkan promosi Garuda Eco Lite, Garuda Online Traveling Fair.

Perseroan juga melakukan pembukaan penerbangan langsung khusus kargo guna mendukung daya saing komoditas ekspor nasional dan pengembangan UMKM. Serta pengoperasian pesawat passenger truck, optimalisasi layanan carter kargo, dan pengembangan layanan pengiriman barang Kirim Aja berbasis aplikasi digital.

Namun, strategi bukan tanpa dampak. Berikut sejumlah fakta mengenai beban berat keuangan Garuda Indonesia.

Tawarkan Pegawai Pensiun Dini

Manajemen maskapai pelat merah tersebut menawarkan pensiun dini kepada karyawan sebagai salah satu upaya bertahan. Penawaran pensiun dini akan berlangsung hingga 19 Juni 2021 juga diikuti dengan rencana perseroan memangkas jumlah pesawat yang beroperasi.

Direktur Utama Garuda Indonesia Irfan Setiaputra membenarkan bahwa pihak manajemen Garuda Indonesia meminta para karyawannya untuk mempercepat pensiun dini, jika tidak maka gaji karyawan yang sempat ditunda tidak akan dibayarkan dulu. Lantaran keadaan keuangan Garuda Indonesia semakin mengkhawatirkan.

” Memang betul kami menawarkan pensiun dipercepat bagi karyawan Garuda. Tahun 2020 karyawan Garuda Indonesia saja 7.890 orang dan tahun lalu kita sudah melakukan program pensiun dini ini plus percepatan kontrak dari pegawai-pegawai kita,” kata Irfan.

Pangkas Jumlah Komisaris

Menteri BUMN Erick Thohir memutar otak guna mengatasi efisiensi keuangan di tubuh Garuda Indonesia yang kini tengah terlilit utang hingga puluhan triliun rupiah. Salah satunya, dia mengusulkan agar dilakukan pemangkasan dengan hanya menyisakan dua dewan komisaris saja untuk perseroan.

Kabar ini diumumkan pasca menerima surat tembusan dari salah satu anggota Dewan Komisaris Garuda Indonesia, Peter Gontha yang meminta agar pembayaran dirinya dan para komisaris lain pada Mei 2021 ditangguhkan.

” Sangat bagus. Kita harus puji. Bahkan saya ingin mengusulkan, komisaris Garuda Indonesia hanya dua saja,” kata Erick Thohir di kantor Kementerian BUMN.

Erick word play here menyambut usulan Peter Gontha sembari mengatakan, bukan hanya sejumlah pegawai Garuda Indonesia saja yang dilakukan pensiun dini, tapi jumlah komisaris tidak dikurangi. “Jadi usulan Peter Gonta bagus menurut saya. Jadi bener-bener mencerminkan keseriusan komisaris dan direksi Garuda,” ungkapnya.

Utang Garuda Indonesia Bertambah Rp 1 T Tiap Bulan
Garuda Indonesia tercatat memiliki utang sebesar USD 4,9 miliar atau setara Rp70 triliun, meningkat sekitar Rp1 triliun setiap bulan karena terus menunda pembayaran kepada pemasok.

Perusahaan juga tercatat memiliki arus kas negatif dan utang minus Rp41 triliun. Tumpukan utang tersebut disebabkan pendapatan perusahaan yang tidak bisa menutupi pengeluaran operasional.

Berdasarkan pendapatan Mei 2021, Garuda Indonesia hanya memperoleh sekitar USD 56 juta dan dalam saat bersamaan harus membayar sewa pesawat USD 56 juta, perawatan pesawat USD 20 juta, bahan bakar avtur USD 20 juta, dan gaji pegawai USD 20 juta.

Garuda Indonesia Fokus Layani Turis Lokal

Menteri Badan Usaha Milik Negara (BUMN), Erick Thohir mengatakan, Garuda Indonesia akan fokus pada bisnis penerbangan domestik dengan melayani perjalanan masyarakat antarpulau di Tanah Air. Aksi yang dilakukan pemerintah tersebut merupakan upaya untuk menyelamatkan Garuda Indonesia dari masalah finansial akibat kerugian yang dialami perseroan.

” Indonesia ini negara kepulauan, jadi tidak mungkin orang Indonesia menuju pulau lain pakai kereta, pilihannya ada dua yaitu kapal laut atau penerbangan. Garuda dan Citilink akan fokus kepada pasar domestik, bukan pasar internasional,” kata Menteri Erick Thohir seperti dikutip dari Antara di Jakarta.

Menteri Erick merujuk database Garuda Indonesia yang didominasi penumpang tujuan daerah sebanyak 78 persen dengan pendapatan mencapai Rp1.400 triliun. Sementara, jumlah penumpang tujuan luar negeri tercatat hanya 22 persen dengan perolehan Rp300 triliun.

Menurutnya, pembicaraan terkait perubahan bisnis Garuda Indonesia ke pasar domestik telah dilakukan pada November 2019 hingga Januari 2020, sebelum adanya pandemi COVID-19. “Sebelum COVID-19 sebanyak 78 persen turis adalah turis lokal sebanyak Rp1.400 triliun, turis asing hanya 22 persen Rp300 triliun,” kata Menteri Erick.

Komisaris Rela Tak Terima Gaji

Komisaris Utama PT Garuda Indonesia (Persero) Tbk, Triawan Munaf menyatakan, jajaran komisaris siap tidak menerima gaji untuk bisa menyelamatkan maskapai pelat merah tersebut. Pernyataan itu diberikan pasca Anggota Dewan Komisaris Garuda Indonesia Peter Gontha meminta penangguhan gratuity bulanan per Mei 2021 kemarin.

“Sudah disetujui. Isi dari surat itu substansinya ya bahwa dewan komisaris termasuk saya menyetujui langkah-langkah efisiensi yang terjadi di Garuda Indonesia. Termasuk pengurangan gaji, pemotongan gaji, peniadaan gaji,” ujar Triawan.

Triawan menyebutkan, peniadaan gratuity tersebut telah disetujui oleh seluruh anggota dewan komisaris Garuda Indonesia demi menyelamatkan perseroan yang tertimpa kesulitan finansial.

“Kita bukan cari uang di situ, kita cari hidup. Kita ingin menyelamatkan Garuda Indonesia secara finansial,” tegasnya.

Kisah Perantau yang Sukses di Ibukota dan Sekarang Mudik Membawa Mobil Mewah

Kisah Pemudik Naik Lamborghini: Dulu ke Jakarta Ikut Tetangga, Jualan Pecel  Lele | kumparan.com

Lorettanapoleoni.org – Video viral sedan sporting activity mewah Lamborghini Aventador blusukan di jalan kampung di Kabupaten Lamongan, Jawa Timur, masih ramai diperbincangkan. Usut punya usut, pemiliknya memang warga asli Desa Ngayung, Kecamatan Maduran, yang sedang mudik Lebaran dari Jakarta.

Hal itu dikonfirmasi oleh Kepala Desa Ngayung, Supratman. “Dia memang kelahiran dan sebagai warga Desa Ngayung, sampai dia merantau ke Jakarta. Dan alhamdulillah sukses,” kata Supratman kepada media

Lantas siapakah sosok Saiful Anam, pemilik Lamborghini Aventador yang videonya viral di Facebook dan Instagram itu? Dia meninggalkan kampung halamannya di Lamongan untuk merantau ke Jakarta pada 1992.

Sebagai remaja belia, Saiful dititipkan oleh Neneknya ke tetangga yang kebetulan akan berangkat ke Jakarta. “Jadi saya lulus SMP Tahun 1992, saya nyusul bapak ke Jakarta,” ungkap Saiful Anam, Selasa (25/5).

Orang tua Saiful memang sudah lebih dulu menjalani usaha di Jakarta, sebagai pedagang pecel lele dan seafood di kawasan Sunter, Jakarta Utara. Dia word play here menjalani keseharian dengan membantu usaha bapaknya. Berawal dari pencuci piring, hingga akhirnya punya usaha warung pecel lele sendiri di kawasan Kelapa Gading.

Sambil usaha pecel lele sejak 1997, dia berjualan sepatu di tahun 2000. Target pembelinya adalah pelanggan warung pecel lele, termasuk kalangan pehobi electric motor gede dan mobil sporting activity. Usaha sepatunya berkembang jadi bisnis style.

Untuk mengembangkan bisnis tersebut, Saiful berangkat ke China untuk belanja langsung barang-barang dagangannya. Usaha fashion-nya terus berkembang hingga punya pabrik sepatu sendiri di Tangerang pada 2013. Bahkan setahun berikutnya, dia membuka pabrik milik sendiri di China.

“Terus 2014 saya buka di China. Karena kebetulan saya sudah menguasai banget di China sejak 2002 itu saya di China,” beber dia.

Kesuksesan usahanya itu lah yang mendukung hobi mobil car sport serta motor gede. Hal itu sudah dijalani sejak lama dan menurutnya bukan untuk pamer dia naik Lamborghini Aventador saat mudik ke kampung halamannya di Lamongan.

Video viral Lamborghini Aventador blusukan di jalan desa itu, awalnya ramai di sosial media. Antara existed diunggah oleh akun Fabian Rayhan, di Facebook yag kemudian diunggah ulang oleh akun indra_fathan di Instagram.

“Ini yang naik mobil perantau sukses besar dari perkotaan. Sampai-sampai mobilnya dikejar anak-anak dan jadi hiburan buat mereka,” tulis pemilik akun instagram itu.

Indonesia Berharap Bisa Kirim Jemaah Haji Sekitar 5-10 Ribu Orang

Arab Saudi Akan Buka Kembali Penerbangan, Sinyal Positif Bagi Jemaah Haji  Indonesia?

Lorettapoleoni.org – Arab Saudi akan mengizinkan warga asing untuk menunaikan ibadah haji 2021. Berbagai media lokal maupun Timur Tengah menyatakan pengumuman resmi akan segera disampaikan Arab Saudi.

Salah satu informasi yang memperkuat kabar Saudi mengizinkan warga asing beribadah haji tahun ini adalah Surat Edaran Kemenkes Arab Saudi yang antara existed diunggah oleh Haramain Info, media yang fokus memberitakan Masjidil Haram dan Mosque Nabawi, pada Minggu (23/5/2021).

Surat edaran salah satunya berisi jumlah jemaah haji 2021, yakni 60 ribu orang. Rincian detailnya, 45 ribu jemaah luar negeri dan 15 ribu jemaah dalam negeri Arab Saudi.
Meski surat itu telah beredar, tapi belum ada pejabat Arab SAudi yang mengkonfirmasi surat itu.

Dan meski menyambut gembira bila benar jemaah asing diperbolehkan haji tahun ini, Kemenag RI memilih menunggu pengumuman resmi dari Arab Saudi.

Sementara itu, Konjen RI untuk Jeddah berharap Arab Saudi memberikan kuota haji kepada Indonesia sampai 10 ribu orang jika benar terdapat porsi jemaah luar negeri sebanyak 45 ribu.

” Namun sekiranya nanti misalnya benar bahwa jemaah asing 45 ribu, maka saya perkirakan Indonesia akan dapat sekitar 5 ribu-10 ribu kuota,” ujar Konsulat Jenderal RI untuk Jeddah, Eko Hartono.

Eko menambahkan, kendati Indonesia berharap dapat ribuan kuota, namun pemerintah Arab Saudi hingga kini belum memberikan keputusan final terkait haji 2021.

” Untuk haji, belum ada keputusan final dari Saudi, termasuk tentang kuota dan vaksin,” ujarnya.

Vaksin Sinopharm dan Sinovac

Eko juga menyatakan bahwa Indonesia masih terus mengupayakan supaya calon jemaah yang sudah divaksinasi COVID-19 dengan Sinovac dan Sinopharm untuk bisa melakukan ibadah haji.

Laporan yang ada saat ini, vaksin yang direkomendasikan Arab Saudi untuk jemaah haji adalah Pfizer, AstraZeneca, Moderna, dan Johnson & Johnson. Sedangkan vaksin pabrikan China tidak/belum masuk daftar.

“Untuk vaksin, kita terus berupaya agar apa yang diberikan ke calon jemaah Indonesia dapat diterima oleh Saudi,” kata Eko, sembari menambahkan bahwa Menteri Luar Negeri RI Retno L Marsudi sudah sempat menemui Menlu Arab Saudi untuk membahas perihal vaksin ini.

“Tapi harapan kita, tentunya Indonesia dapat mengirimkan haji tahun ini. Insya Allah,” harapnya.